
Bandung, SP – Hari Peduli Autisme Sedunia tahun ini di Kota Bandung diperingati dengan cara yang berbeda. Bertempat di Pendopo Kota Bandung, kegiatan mengusung tema “Ketika Kita Memberi Panggung, Mereka Mewujudkan Cahaya” dan menghadirkan ruang ekspresi bagi individu autisme melalui seni dan budaya.
Acara tersebut dihadiri oleh Muhammad Farhan, Ketua Yayasan Budaya Individu Spesial Diana Sofian, serta Elisabeth Kurniawati Tjianti selaku penggagas Yayasan Berbagi Kasih Menebar Kebahagiaan. Turut hadir pula berbagai komunitas disabilitas, akademisi, serta tamu undangan lainnya.
Beragam kegiatan digelar dalam rangkaian acara, mulai dari penampilan seni oleh individu autisme, pameran karya seni rupa, passion show, hingga pertunjukan budaya bambu Baramaswin dari Maluku. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi simbol kuat upaya bersama dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap autisme sekaligus menghapus stigma yang masih melekat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Bandung menegaskan bahwa kegiatan semacam ini telah menjadi tradisi penting bagi komunitas autisme di Kota Bandung. Ia menilai, panggung ekspresi merupakan sarana efektif untuk menunjukkan potensi dan bakat luar biasa yang dimiliki individu autisme.
“Acara seperti ini biasanya diisi dengan kegiatan utama berupa penampilan seni dari individu autisme yang sangat berbakat,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi, yakni belum tersedianya data akurat terkait jumlah individu autisme di Kota Bandung. Hal ini dipengaruhi oleh stigma sosial dan keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap autisme.
“Sayangnya kita tidak pernah memiliki data mengenai berapa banyak individu autisme yang terdaftar,” tambahnya.

Sementara itu, Elisabeth Kurniawati Tjianti menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi nyata terhadap individu autisme beserta keluarganya. Ia menilai, selama ini peringatan Hari Autisme cenderung bersifat seremonial, sehingga perlu dihadirkan ruang yang lebih inklusif dan bermakna.
“Kami mencoba memberikan fasilitas berupa panggung pertunjukan sebagai bentuk apresiasi, baik bagi keluarga maupun individu spesial,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan istilah “individu spesial” sebagai bagian dari upaya membangun kesetaraan serta mengubah cara pandang masyarakat terhadap autisme sebagai bagian dari keberagaman manusia.
Lebih lanjut, Elisabeth menyoroti peran keluarga sebagai fondasi utama dalam proses pendampingan. Untuk itu, Yayasan Budaya Individu Spesial tengah mengembangkan kurikulum bagi caregiver guna meningkatkan pemahaman dan kualitas pendampingan.
Pendekatan budaya turut menjadi daya tarik tersendiri melalui permainan bambu Baramaswin yang diperkenalkan oleh pemerhati budaya Maluku. Selain sebagai hiburan, permainan ini mengandung nilai kebersamaan dan mampu meningkatkan interaksi sosial.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai institusi pendidikan seperti ISBI Bandung dan Universitas Kristen Maranatha sebagai bagian dari kolaborasi dalam membangun ekosistem inklusif berbasis pengetahuan dan praktik.
Ke depan, penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan diperluas jangkauannya. Dukungan dari pemerintah, komunitas, serta masyarakat luas dinilai menjadi kunci utama dalam mewujudkan lingkungan yang lebih inklusif bagi individu autisme.
Melalui peringatan ini, pesan tentang pentingnya kesetaraan, inklusivitas, dan peran bersama kembali ditegaskan—sebuah langkah nyata menuju masyarakat yang lebih terbuka dan menghargai keberagaman. (Red)










