
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri acara silaturahmi Pemerintah Kota Bandung bersama tokoh agama Hindu yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Rabu (1/4/2026).
Dalam sambutannya, Deni menegaskan bahwa Hari Raya Nyepi tidak hanya menjadi momen sakral bagi umat Hindu, tetapi juga dapat dijadikan sarana refleksi bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.
“Dalam keheningan Nyepi, kita diajak untuk menata kembali hati, pikiran, serta hubungan kita dengan sesama manusia dan alam semesta,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberagaman di Kota Bandung sebagai kekuatan yang harus dirawat bersama. Menurutnya, perbedaan latar belakang masyarakat merupakan anugerah yang memperkaya kehidupan sosial.
“Perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan anugerah yang memperkaya kehidupan kita,” katanya.
Lebih lanjut, Deni mengibaratkan Kota Bandung sebagai taman bunga yang indah dengan beragam warna. Namun, ia mengingatkan bahwa keindahan tersebut harus dijaga dari berbagai potensi perpecahan yang dapat merusak persatuan.
“Jangan sampai ada hama perusak yang merusak keindahan taman itu, seperti prasangka, kebencian, provokasi, maupun sikap yang merusak persatuan,” tuturnya.
Melalui momentum Nyepi, ia mengajak seluruh warga untuk terus memperkuat nilai-nilai toleransi, saling menghargai, serta menjaga kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Mari kita rawat taman kebersamaan ini dengan sikap saling menghargai, saling melindungi, dan saling menguatkan,” lanjutnya.
Di akhir sambutannya, Deni juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang merayakan Nyepi.
“Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi. Semoga keheningan Nyepi membawa kedamaian, kebijaksanaan, dan keberkahan bagi kita semua,” pungkasnya. (red)










