
Bandung, SP – Asia Africa Festival (AAF) 2026 kembali membuktikan diri sebagai salah satu agenda unggulan Kota Bandung yang mampu menjadi magnet wisata sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. Selama dua hari penyelenggaraan pada 11–12 Juli 2026, festival yang mengusung semangat Konferensi Asia Afrika tersebut mencatat total kunjungan mencapai 259.200 orang dengan nilai transaksi ekonomi di kawasan Asia Africa Market sebesar Rp795.685.000.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa AAF bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga menjadi penggerak ekonomi kreatif dan sarana memperkuat citra Bandung sebagai kota bersejarah di tingkat internasional.
“Asia Africa Festival bukan sekadar perayaan budaya. Festival ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, seniman, hingga delegasi dari berbagai negara. Yang paling penting, kegiatan ini mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota kreatif dan kota yang memiliki sejarah penting bagi dunia,” ujar Farhan, Selasa (14/7/2026).

Menurut Farhan, tingginya jumlah pengunjung menjadi bukti bahwa penyelenggaraan event berkualitas mampu memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari UMKM, industri kreatif, perhotelan, kuliner hingga transportasi.
“Selama dua hari penyelenggaraan, total kunjungan mencapai lebih dari 259 ribu orang. Ini menunjukkan bahwa event berkualitas mampu menjadi magnet wisata sekaligus menggerakkan sektor UMKM, ekonomi kreatif, perhotelan, kuliner, hingga transportasi. Kami ingin setiap kegiatan pemerintah memiliki multiplier effect bagi perekonomian Kota Bandung,” katanya.
Rangkaian AAF 2026 diawali dengan Asia Africa Carnaval yang melibatkan 23 komunitas, dua kabupaten/kota, serta dua negara dengan total 1.380 peserta. Karnaval budaya tersebut turut dihadiri delegasi dari 28 negara dan disaksikan sekitar 9.800 pengunjung, menghadirkan beragam pertunjukan seni dan tradisi sebagai simbol persahabatan negara-negara Asia dan Afrika.
Sementara itu, Asia Africa Corner yang dipusatkan di Gedung De’Majestik menjadi ruang interaksi budaya melalui berbagai kegiatan seni. Program Asia Africa Performing Lab digelar dalam tujuh sesi dengan melibatkan 14 komunitas yang menampilkan pertunjukan seni, pemutaran film, teater monolog, musik, paduan suara hingga gathering mahasiswa internasional. Program tersebut berhasil menarik sekitar 1.200 pengunjung.
Di lokasi yang sama, Asia Africa Culture menghadirkan karya 40 seniman Kota Bandung serta sesi diskusi bertema seni dan kreativitas yang dikunjungi sebanyak 875 orang selama dua hari penyelenggaraan.
Kontribusi terbesar terhadap perputaran ekonomi festival berasal dari Asia Africa Market yang menghadirkan 49 tenant dan 18 pengisi acara. Berbagai produk UMKM, kuliner, fesyen, kriya hingga hiburan menjadi daya tarik utama yang berhasil mencatatkan transaksi hampir Rp800 juta.
“Transaksi yang hampir mencapai Rp800 juta menunjukkan bahwa event budaya juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kehadiran pengunjung memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Ini yang terus akan kami dorong agar setiap event memberikan dampak ekonomi yang luas,” ungkap Farhan.
Selain berdampak pada sektor ekonomi, AAF 2026 juga mengusung konsep Sustainable Event sebagai komitmen terhadap penyelenggaraan acara yang ramah lingkungan.
Melalui program WAHU, penyelenggara bersama masyarakat berhasil mengumpulkan 807,58 kilogram sampah plastik atau setara sekitar 18 meter kubik dari empat titik pengumpulan selama tujuh hari menjelang festival. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, total sampah yang berhasil dikelola mencapai 22 meter kubik, terdiri dari 80 persen sampah plastik, 10 persen sampah organik, dan 10 persen sampah residu.

Pemerintah Kota Bandung juga menghitung jejak karbon penyelenggaraan festival yang mencapai 10,82 ton CO₂e. Sebagai langkah mitigasi, Pemkot akan melakukan program carbon offset melalui penanaman 110 pohon produktif di Kecamatan Sumur Bandung, Lengkong, dan Regol bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
“Bagi kami, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari bagaimana acara tersebut bertanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu kami menghitung jejak karbon penyelenggaraan kegiatan dan melakukan kompensasi melalui penanaman pohon produktif. Ini menjadi bagian dari komitmen Bandung menuju penyelenggaraan event yang lebih berkelanjutan,” jelas Farhan.
Ia berharap Asia Africa Festival terus berkembang menjadi agenda internasional yang semakin memperkuat identitas Bandung sebagai Kota Asia Afrika sekaligus destinasi wisata budaya kelas dunia, dengan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat dan perekonomian daerah. (***)










