
Kepala Cabang Karangpawitan, Dodi Sugandi, mengungkapkan bahwa di sejumlah wilayah pelayanan terjadi peralihan konsumsi air dari jaringan PDAM ke sumur bor mandiri yang dibangun warga maupun lingkungan RT/RW setempat.
“Untuk permasalahan berkurangnya pelanggan di Karangpawitan khususnya, ada beberapa faktor penyebab, di antaranya banyak program warga atau lingkungan RT/RW yang membuat sumur bor sendiri di wilayah pelayanan kami. Imbasnya, mungkin karena tarifnya lebih murah dibandingkan PDAM, jadi mereka beralih,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Menurut Dodi, faktor tarif menjadi pertimbangan utama masyarakat. Ia menjelaskan, penggunaan air PDAM sebesar 10 meter kubik bisa mencapai sekitar Rp60 ribu, sementara biaya operasional sumur bor dinilai sebagian warga lebih ekonomis.
“Kadang-kadang sepuluh kubik saja sudah enam puluh ribu. Sedangkan mereka mungkin di bawah kami untuk tarifnya. Dan mungkin karena debit air kami pun sempat berkurang, itu juga membuat pelanggan beralih,” katanya.
Meski demikian, pihaknya terus melakukan pendekatan kepada masyarakat agar tetap mempertahankan layanan air bersih perpipaan. Dodi menegaskan, dari sisi kualitas air dan standar pelayanan, PDAM memiliki keunggulan tersendiri.
“Sebetulnya kami bisa menjelaskan bahwa untuk kebutuhan air bersih, dari segi kualitas juga lebih bagus. Kemudian untuk pelayanan yang sebelumnya mungkin kurang optimal, sekarang kami berusaha meningkatkan pelayanan kepada pelanggan,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan pelanggan adalah debit air yang tidak stabil. Kondisi tersebut sempat memicu ketidakpuasan hingga mendorong sebagian warga membuat sumur bor sebagai alternatif.
“Memang sebelumnya ada pengurangan debit sehingga tidak lancar. Sekarang kami berusaha menambah debit dan memperbaiki kebocoran agar suplai tetap terjaga. Terus terang, kami di lapangan sedang menggempur kebocoran,” jelasnya.
Ia menegaskan, fokus utama saat ini adalah pembenahan jaringan distribusi, khususnya menekan tingkat kebocoran pipa yang berpengaruh terhadap stabilitas suplai air. Kebocoran tidak hanya berdampak pada penurunan debit, tetapi juga berpotensi menyebabkan terus menyusutnya jumlah pelanggan.
“Jangan sampai pelanggan terus berkurang karena banyaknya kebocoran, sehingga mereka beralih ke sumur bor warga, terutama di wilayah pedesaan,” katanya.
Selain masalah debit, PDAM Karangpawitan juga menerima keluhan terkait tagihan air yang dianggap tidak sebanding dengan pemakaian. Menanggapi hal tersebut, Dodi menjelaskan bahwa dalam sejumlah kasus ditemukan kebocoran instalasi setelah meter air milik konsumen.
“Biasanya ada kebocoran setelah meter di sisi konsumen yang tidak disadari. Walaupun kecil, meter tetap berjalan. Jadi walaupun tidak digunakan, kalau ada kebocoran tetap tercatat di meter. Setelah kami cek, memang banyak yang bocor setelah meter,” terangnya.
Manajemen Perumda Air Minum Tirta Intan Garut Cabang Karangpawitan kini berupaya meningkatkan pengawasan jaringan serta mengimbau pelanggan untuk rutin memeriksa instalasi internal masing-masing. Diharapkan, perbaikan pelayanan dan stabilitas suplai air dapat menahan laju penurunan pelanggan serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan air bersih perpipaan.
(H. Ujang Slamet)










