
KBB, Saguling, SP – Kegiatan di penghujung bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan cerita tersendiri di SMPN 1 Saguling. Pada tahun ini, kegiatan pesantren kilat Ramadhan diikuti oleh seluruh siswa dengan melibatkan seluruh guru serta staf administrasi sekolah.
Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari, mulai Senin 9 Maret hingga Jumat 13 Maret 2025, yang bertepatan dengan 19 sampai 23 Ramadhan 1447 Hijriah. Hal itu disampaikan Kepala SMPN 1 Saguling, H. Budi Ruhiat, S.Pd., M.Pd, kepada tim suarapasundan.net, Jumat (13/3/2027).
Budi Ruhiat menuturkan, pada tahun ini terdapat beberapa perbedaan dalam penyampaian materi yang disesuaikan dengan karakter generasi Z. Salah satunya adalah pembahasan mengenai adab kepada guru di era digital serta pemahaman makna Ramadhan dengan membatasi penggunaan gadget.
“Selain materi kontemporer, para siswa juga tetap diberikan landasan ilmu agama agar mampu memahami nilai-nilai keislaman secara lebih mendalam,” ujarnya.
Kegiatan pesantren kilat diawali dengan pelaksanaan salat dhuha bersama di lapangan sekolah, dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan siswa juga menyampaikan nasihat atau dakwah sebagaimana kegiatan rutin sekolah yang dilaksanakan setiap Selasa dan Jumat, yang dikenal dengan program SENDAWA (Selasa: Salat Duha, Dakwah, dan Tilawah).
Untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, pihak sekolah juga menyediakan bimbingan khusus bagi siswa yang belum fasih membaca Al-Qur’an. Selain itu, kegiatan praktik ibadah juga dilakukan guna mengetahui sejauh mana pemahaman siswa dalam melaksanakan tata cara ibadah atau fiqih dalam Islam.
Di akhir kegiatan, pihak sekolah melaksanakan evaluasi pemahaman siswa melalui pengisian soal yang disediakan secara daring menggunakan Google Form. Siswa yang mampu menjawab dengan cepat dan benar diberikan penghargaan sebagai bentuk motivasi belajar.
Selain kegiatan pembelajaran, momentum Ramadhan juga dimanfaatkan untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Para siswa mengumpulkan infak yang kemudian disalurkan kepada siswa yang membutuhkan bantuan.
Salah seorang pengajar pesantren kilat, Lilis Sumyati, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menanamkan rasa empati dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekolah.
“Melalui kegiatan berbagi ini diharapkan siswa memiliki kepedulian terhadap sesama serta mampu mengamalkan nilai-nilai kebersamaan,” tuturnya.
Menjelang penutupan kegiatan, seluruh siswa dan guru melaksanakan musafahah atau saling bersalaman. Momen tersebut menjadi suasana haru karena menandai perpisahan dengan bulan suci Ramadhan sekaligus menjadi ajang saling memaafkan antar keluarga besar SMPN 1 Saguling.

Dalam penutupannya, Budi Ruhiat juga menyampaikan makna Ramadhan dalam kehidupan setelah Idulfitri. Ia berharap nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadhan dapat membentuk pribadi yang lebih baik.
“Makna Ramadhan harus menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan melahirkan pribadi yang fitri atau suci. Sehingga setelah menjalankan puasa dengan benar, hal itu berpengaruh pada perilaku, ucapan, dan tindakan yang menjadi lebih baik,” pungkasnya.
(Roven. G)










